Shopping Cart
🔥 These products are limited, checkout within
00m 00s
SAMPIT, Kalteng – Lebih dari dua dekade telah berlalu, namun gurat trauma dan pertanyaan besar masih tersisa. Perang Sampit (2001) yang menewaskan ratusan jiwa dan memaksa eksodus besar-besaran warga Madura dari Kalimantan Tengah (Kalteng) hingga kini menjadi babak kelam sejarah Indonesia. Di mata publik nasional, konflik ini kerap disederhanakan sebagai "orang Dayak vs orang Madura." Lantas, bagaimana sebenarnya tanggapan masyarakat Madura, baik yang kini kembali ke kampung halaman di Pulau Madura maupun yang masih memilih tinggal di Kalteng, terhadap peristiwa berdarah tersebut? Bukan Agresi, Tapi Reaksi terhadap Stigma Salah satu tanggapan paling umum yang muncul dari komunitas Madura adalah penolakan terhadap narasi bahwa mereka adalah pihak yang "agresor" atau "pemicu" utama konflik. Sejarawan dan budayawan Madura, K.H. Moh. Syafi’i, menyatakan bahwa akar masalah bukanlah kebencian etnis, melainkan akumulasi krisis sosial ekonomi dan ketimpangan struktural.
Karena pada akhirnya, baik Dayak maupun Madura sama-sama merasakan getirnya konflik, dan sama-sama merindukan kedamaian yang dulu sempat bersemi di tanah Kalimantan. tanggapan orang madura terhadap perang sampit
"Orang Madura datang ke Kalteng untuk bekerja, membuka lahan, atau berdagang. Sifat keras dan terbuka mereka sering disalahartikan sebagai arogan. Namun, dalam Perang Sampit, nyawa orang Madura justru melayang lebih dulu dalam jumlah besar. Tanggapan kami: ini adalah tragedi kemanusiaan, bukan kemenangan satu pihak," ujarnya dalam diskusi budaya beberapa waktu lalu. Tanggapan kritis juga diarahkan pada pemerintah pusat. Bagi warga Madura, terutama para pengungsi yang masih tinggal di kamp-kamp darurat di Surabaya, Sidoarjo, dan pulau asal mereka, negara dinilai lamban bertindak. Mereka mengaku merasa "dikhianati" karena janji pemulihan hak dan relokasi tak kunjung terealisasi secara penuh. SAMPIT, Kalteng – Lebih dari dua dekade telah